Bayi Sunat atau Tidak ?

Standar

Enggak perlu khawatir, Bu-Pak. Sunat aman kok bagi bayi.

Sunat berarti membuang kulit penutup kepala penis atau kulup. Secara medis, membuang kulup atau prepotium memang dianjurkan dengan alasan kebersihan. Kerutan-kerutan pada kulup biasanya menjadi tempat berkumpulnya kotoran yang mengendap. Bila tak dibuang, kotoran ini bisa menyebabkan bau tak sedap, bahkan infeksi.

Sebagai gambaran, untuk bisa memancur keluar, urin bayi laki-laki harus melewati prepotium. Dengan demikian, akan selalu ada sisa kencing yang tertinggal di situ. Jika kepala penis selalu dibersihkan setiap mandi, tentu tak masalah. Tanpa disunat pun, kemungkinan infeksi dan bau tak sedap dapat dihindarkan. Caranya dengan membersihkan penis setiap hari; kulup ditarik ke belakang hingga kepala penis terlihat lalu seka dengan waslap basah dan hangat.

Namun sering sekali ditemukan kasus lubang penis sudah tergumpali kotoran putih yang disebut snekma sampai-sampai lubangnya tertutup. “Masalahnya, meski prepotium mudah ditarik untuk dibersihkan, banyak yang tak rajin melakukannya saat memandikan bayi. Lama-lama kotoran yang menumpuk ini bisa menyebabkan infeksi yang menyumbat penis,” ungkap Dr. Endang Triningsih F., Sp.A, ahli kesehatan anak dari RSAB Harapan kita. “Bayangkan kalau dari lahir penis enggak pernah dibersihkan, pada umur beberapa minggu saja snekma ini sudah menumpuk dan akhirnya membuat bayi mengejan bila kencing. Mengatasinya ya, terpaksa dengan disunat.”

Bila sampai terjadi infeksi, tiap kali buang air kecil bayi akan mengejan dan menangis kesakitan. Untuk menghindari risiko infeksi akibat penis lupa dibersihkan, lebih baik kulupnya dibuang saja sekalian, bukan?

JIKA KENCING MENGEJAN

Sunat tidak bisa ditunda jika bayi memiliki bentuk prepotium yang rapat dan panjang, sehingga urinnya tidak lancar keluar. Gejalanya, bayi tampak mengejan bila kencing atau bahkan ujung prepotiumnya menggelembung. Penis dengan prepotium seperti ini sukar dibersihkan, maka perlu disunat.

Jika prepotium sudah terbuka karena disunat, selanjutnya amat mudah untuk membersihkan penis bayi. Begitu si kecil selesai kencing, kita tinggal membasuh sisa-sisa kencing di kepala penis yang sudah terbuka. Jadi, tak ada lagi kotoran yang menempel di ujungnya.

Bila orang tua tidak mengizinkan bayinya disunat, dokter akan melakukan delatasi, yaitu membuka prepotium. Pilihan lainnya adalah dorsumsisi atau membelah bagian belakang prepotium supaya lebar, sehingga mudah ditarik untuk dibuka dan dibersihkan. Setelah itu, orang tua tetap harus rajin membuka kulup bayinya untuk dibersihkan setiap kali mandi. Nah, praktis mana dengan membersihkan penis yang sudah dibuang kulupnya?

UMUR BERAPA SEBAIKNYA?

Dari segi medis, Endang menilai, bayi usia berapa pun boleh disunat. Namun jika kondisi penis dan prepotiumnya sejak lahir sudah terbuka bagus, lancar menyalurkan urin, dan mudah dibersihkan, sunat boleh ditunda sampai si anak siap. Sebaliknya kalau bayi baru lahir kulupnya menutup rapat, panjang dan sempit sampai-sampai kalau kencing selalu menangis karena mengejan, sebaiknya segera disunat.

Yang jelas, disunat pada usia bayi, usia balita, ataupun menjelang akil balig tak akan mempengaruhi fungsi dan ukuran alat vital. Jadi mitos yang mengatakan sunat akan memperbesar atau memperkecil alat vital salah. “Besar kecilnya alat vital, berkaitan dengan hormon, bukan sunat!”

LAKUKAN OLEH AHLINYA

Menurut Endang, sunat selayaknya dilakukan oleh tenaga medis yang memiliki keahlian menyunat. Meski sunat hanya merupakan operasi kecil (dengan bius total yang aman), risikonya bisa di luar dugaan bila tak dilakukan dengan persiapan matang.

Sebelum tindakan ini dilakukan, tenaga medis akan melakukan sejumlah persiapan awal. Di antaranya, mengecek hasil darah di laboratorium untuk melihat waktu pembekuan darah dan waktu perdarahan. Sekarang ditambah lagi dengan tes untuk menguji fungsi trombosit. “Ini harus dilakukan untuk mengantipasi kemungkinan anak punya kelainan darah seperti hemofilia. Jadi, akan dilihat dulu apakah darahnya mudah membeku atau tidak kalau mengalami luka. Atau, mudah tidak ia mengalami perdarahan?”

Selain harus oleh ahlinya, alat yang digunakan pun harus steril. Kalau tidak, bisa mengakibatkan infeksi yang tentu saja membahayakan.

PERAWATAN PENIS PASCASUNAT

Sunat sekarang umumnya menggunakan benang modern yang tak perlu dilepas karena sifatnya melebur di kulit. Obat dan peralatannya pun kini ada yang bisa membuat luka bekas sunat lebih cepat disembuhkan. Walau begitu, Endang mengingatkan, perawatan penis pascasunat tetap harus diperhatikan agar tak terjadi infeksi pada luka bekas operasi. Berikut perawatannya:

* Usahakan selalu agar penis tetap bersih dan kering.

* Bersihkan dengan air hangat di seputar luka, keringkan, lalu ganti popok/celana dalam si kecil. Jangan biarkan popok/celana dalam keadaan basah dan lembap.

* Kenakan popok/celana yang longgar, jangan terlalu menempel ke penis karena dapat menimbulkan luka gesekan.

SI UPIK JUGA MESTI DISUNAT?

Secara anatomi, lelaki dan perempuan memiliki kesamaan komposisi alat vital. Penis pada pria sama dengan klitoris pada perempuan. Sedangkan skrotum (buah zakar) yang dua buah, pada wanita menjadi bibir vagina, yaitu labia.

Di ujung klitoris juga terdapat kulit yang kalau pada penis disebut prepotium. Pada bayi perempuan, kadang bisa dilihat ujung klitorisnya memiliki lapisan putih yang bisa lepas sendiri. “Nah, kalau memang belum lepas, kita bantu untuk melepasnya. Ini mungkin yang disebut sunat wanita. Tapi kalau memang sudah lepas, tidak perlu diapa-apakan lagi,” kata Endang.

Sebagian masyarakat kita memberlakukan sunat pada bayi atau anak perempuan yang dikerjakan oleh dukun sunat. “Caranya, ujung klitoris sedikit dilukai sampai mengeluarkan darah, dan itu mereka bilang sunat. Mereka juga bilang secara agama harus sama antara sunat penis dan vagina. Namun, prinsipnya secara medis sudah tidak perlu. Kalau secara agama, ya, itu pilihan masing-masing.”

Santi Hartono. Foto: Iman/nakita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s