Perlukah Bayi Disunat ?

Standar

KOMPAS.com – “Bayi saya baru berumur 10 bulan. Beberapa hari yang lalu dia panas tinggi. Sudah sempat cek darah, tapi tidak ditemukan hal-hal yang mengkhawatirkan. Ketika dibawa ke dokter, dokter bertanya soal kebiasaan pipis anak saya. Saya bilang pipisnya normal. Setelah diperiksa, ternyata kulit yang menutup penisnya tidak bisa dibuka secara sempurna. Beliau menyarankan agar bayi saya disunat. Sebenarnya, di usia berapakah sebaiknya sunat itu dilakukan?” (Surat dari Kinar, Kampung Ambon)

click to enlarge

Sebelum membahas soal sunat, mungkin sebaiknya dibahas dulu mengenai demam yang membuat Anda harus membawa si kecil ke dokter. Sayang tidak disebut berapa lama demam terjadi, dan kapan pemeriksaan darah dilakukan. Menurut dr Fransisca Handy, SpA, dokter anak dan konsultan laktasi, demam -seperti halnya batuk dan pilek- adalah penyakit yang sehari-hari terjadi pada anak, terutama balita. Penyakit-penyakit ringan ini merupakan bagian dari tumbuh-kembang anak. Inilah “ajang pelatihan” bagi daya tahan tubuh si anak sekaligus pertanda bahwa daya tahan tubuh anak sedang bekerja.

Penyakit-penyakit ringan ini sebagian besar disebabkan oleh virus yang bersifat sel limiting disease (sembuh sendiri). Demam yang tinggi tidak menggambarkan bahwa penyakitnya lebih berat daripada demam yang rendah, karena demam akibat virus umumnya justru tinggi. Pemeriksaan penunjang (laboratorium) biasanya dilakukan bila demam telah berlangsung lebih dari tiga hari.

Bila dari pemeriksaan fisik dan hasil lab darah tidak ditemukan kelainan, pada anak di bawah 2 tahun infeksi saluran kemih (ISK) memang perlu dicurigai. Selanjutnya kecurigaan ini tentu perlu dibuktikan terlebih dahulu sebelum menentukan pengobatannya. ISK dibuktikan dengan melakukan pembiakan (kultur) terhadap air seni yang biasanya memerlukan waktu antara 3-7 hari. Bila dari hasil pembiakan terbukti bahwa didapat bakteri dengan jumlah koloni >100.000/ml, diagnosis ISK baru dapat ditegakkan.

Melekatnya kulit penutup penis dengan penis itu sendiri (dikenal dengan istilah fimosis) memang merupakan salah satu faktor risiko ISK. Membuang sebagian kulit penutup penis (yang dilakukan pada sunat) tentu menjadi salah satu cara mengurangi risiko ISK tersebut.

Tetapi, bayi laki-laki secara normal sebagian  besar memang mengalami fimosis. Pada usia 2 tahun fimosis akan dengan sendirinya mulai berkurang sedikit demi sedikit hingga akhirnya kulit penutup penis tersebut akan mudah disingsingkan dan dibersihkan.

Bila ISK memang terbukti, selain pengobatan antibiotik, pencegahan amat perlu. Pencegahan utama adalah dengan melakukan toilet training, tidak menggunakan diaper atau popok, dan segera mengganti celana bayi bila basah. Bersihkanlah daerah anus dan alat kelamin dari arah depan ke belakang (dari alat kelamin ke anus) dengan air biasa (bukan dengan tisu basah karena mengandung pewangi atau alkohol). Bila ISK berulang perlu dipertimbangkan untuk menghilangkan pelekatan penis dengan kulit penutupnya. Tidak harus dengan sunat, bisa juga dengan tindakan melonggarkan pelekatan yang terjadi (oleh dokter).

Pada dasarnya sunat adalah keputusan pribadi masing-masing yang biasanya juga didasari alasan kepercayaan. Tidak ada pedoman batasan usia untuk melakukan sunat. Secara medis sunat memang memberi beberapa keuntungan, seperti mengurangi risiko infeksi saluran kemih dan penyakit menular seksual lainnya. Tetapi sunat bukan satu-satunya cara untuk mengurangi risiko-risiko tersebut dan dengan sunat tidak berarti pasti bebas dari risiko penyakit ersebut. Nah, sebelum Anda memutuskan sunat atau tidak, buktikan dulu adanya ISK.

3 responses »

  1. Salam kenal mas Rachman. Kelihatannya kita punya minat yang tak jauh beda tentang isi blog.
    Anakku umur dua tahun disunat karena fimosis, dan beberapa kali mengalami ISK. Dari pada setiap bulan panas, dan nangis ketakutan kalau pipis …

    • Salam kenal juga Pak Hery Susanto. Anak saya juga pernah mengalami hal yang sama tetapi umurnya waktu itu masih 2,5 bulan dan Alhamdulilah tidak jadi disunat dan ditanggulangi dengan memberihkan penisnya dengan cara mengkulup kulit penis. Hasil konsultasi saya dengan beberapa dokter, sebetulnya sunat pada bayi tidak masalah dilakukan tetapi hanya ditakutkan faktor trauma psikologis pada anak tetapi mudah2an itu bisa diminimalisir dengan memberi pengertian pada anak. Tentunya sebelum diputuskan apakah itu Fimosis atau bukan lakukanlah cek lab seperti artikel di atas. Konsultasikanlah dengan dokter anak dan dokter bedah khusus anak, jika diperlukan tindakan sunat sebenarnya tidak masalah tetapi ingat konsultasikan dulu dengan dokter bedah khusus anak, setau saya ada di RS Cinere, tetapi ada juga di beberapa rumah sakit besar lainnya dan lakukan sunat dengan dokter bedah khusus anak. Salam kenal. RI – Jakarta.

  2. BagiKU Fimosis bukanlah problem besar mengingat masih ada obat & strategi penanganannya.Jadi anda yang punya anak,teman atau diri sendiri Fimosis jangan panic dulu apalagi segera mutuskan untuk Sunat karena Fimosis pada da sarnya mudah di tangani & tidak akan berubah jadi Kanker dsb yg berbahaya.
    Aku minimalnya mengetahui Obat & Strategi penanganan Fimosis walau tidak di ungkapkan di sini.Rasanya kurang etis bila Saya uraikan di Forum ini.Bagi yang ingin mengetahui & berobat padaku.Silakan emailin ke:fransisca_verawaty@ceweq.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s