Mengubah Anak Nakal menjadi penurut

Standar

Di rumah, ia suka berteriak-teriak di dalam rumah sehingga keesokan harinya tetangga datang dan protes pada Anda. Ia juga suka menyembur-nyemburkan makanan ke lantai. Ia akan membanting mainannya jika ia sedang marah. Atau ia akan mogok makan dengan alasan tak ingin gemuk. Sedangkan di sekolah, ia seringkali protes terhadap apa yang diajarkan gurunya. Sering memaki teman lainnya ketika ia tak suka. Hmm… sepertinya beberapa hal yang disebutkan tadi sudah pernah Anda alami, ya kan?

Predikat anak nakal pun melekat di dalam diri anak Anda. Dan beberapa mama yang Anda kenal, melarang anaknya untuk bermain dengan anak Anda. Oh, cobaan apa yang diberikan kepada Anda kali ini? Apakah memang Anda ditakdirkan punya anak yang nakal?

Tidak kok, sebenarnya anak adalah layaknya tanah liat yang bisa Anda bentuk sejak dini. Caranya mudah saja, ikuti beberapa resep berikut ini:

1. Jadilah model untuknya

Anak-anak suka meniru, bahkan sejak bayi, kebanyakan yang ia lakukan merupakan contoh yang ia lihat dan direkam dalam ingatannya. Termasuk sikap dan kebiasaan Anda. Jika Anda memang sering berteriak-teriak kepadanya, tak heran jika ia juga berteriak-teriak pada teman atau gurunya. Jika Anda memutuskan untuk tidak makan dan diet super ketat yang tak masuk akal, jangan heran jika ia tiba-tiba mogok makan dengan alasan takut gemuk. Untuk itu jadilah model yang baik baginya. Ajarkan ia bagaimana berbicara pada orang lain, bagaimana ketika berdebat tentang suatu hal, bukan malah teriak-teriak dan memaki-maki saat ada perselisihan paham. Ajarkan ia bagaimana sehat dan pentingnya buah dan sayuran, berikan contoh bahwa Anda juga minum 8 gelas air putih setiap hari. Ajarkan bahwa olahraga itu penting untuk dilakukan.

Ingat, pendidikan utama anak-anak berawal dari keluarga, dan khususnya Anda!

2. Buat aturan dalam keluarga

Jangan biarkan keluarga Anda berjalan tanpa ada aturan. Buat sebuah aturan yang harus ditaati oleh semua anggota keluarga, baik ayah, ibu maupun anak. Kedisiplinan berawal ketika keluarga melakukan hal kecil, seperti misalnya berdoa sebelum makan, menggosok gigi saat akan tidur, tidak membantah tatkala sudah jam tidur, dan lain sebagainya.

3. Imbang antara ‘Ya’ dan ‘Tidak’

Anda harus tahu kapan mengatakan ‘ya’ dan kapan mengatakan ‘tidak’. Hindari membatasi kecerdasan anak hanya karena Anda tak ingin mendengarnya menangis saat jatuh dari belajar bersepeda. Bila ia jatuh, Anda harus bersiap mengawasi dan menjaganya. Biarkan anak-anak tetap belajar dan berkembang dalam pengawasan Anda. Tentunya Anda tak mau ia menjadi anak yang tak memiliki kelebihan apapun kan?

4. Reward and punishment

Jika sebelumnya kita sempat membahas tentang aturan di dalam keluarga, jangan lupakan soal reward and punishment. Di mana ketika si dia berprestasi berikan ia reward. Tak harus dalam bentuk uang, mainan atau barang, bisa jadi dalam bentuk pelukan atau ciuman.

Putuskan pula hukuman yang tepat jika ia melakukan kesalahan. Bukan dengan pukulan atau kekerasan, namun misalnya dengan tidak mendapatkan uang saku atau hilang kesempatan menonton televisi.

Tak bisa melulu menyalahkan anak ketika tiba-tiba mereka berubah menjadi anak yang bandel dan susah diatur. Ia tak terlahir dengan sifat demikian, justru keluarga dan lingkunganlah yang membentuknya. Untuk itu, mulailah dengan mengubah diri Anda agar si kecil juga bisa berubah menjadi sosok anak yang penurut, dan berbakti pada orang tua serta negara.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s