Batik Canting Cap

Standar

Pekalongan, Jawa Tengah, tidak hanya terkenal sebagai pusat produksi batik. Kota ini juga memiliki sentra produksi dan penjualan canting, pendukung bisnis batik yang berkembang pesat di sana. Memang, alat yang namanya canting itu memegang peranan penting dalam industri batik, baik batik tulis maupun batik cap.

Sentra canting terletak di Kelurahan Landungsari, Kecamatan Pekalongan Timur. Tepatnya di sepanjang Jalan HOS Cokroaminoto.Dibutuhkan waktu sekitar dua jam untuk mencapai lokasi itu, jika Anda berkendara dari Semarang.

Keberadaan sentra para pembuat canting itu ditandai dengan adanya replika canting di setiap gang. Salah seorang pembuat canting cap adalah Hamzah. Pria 26 tahun ini mengaku, baru memulai bisnis pembuatan canting cap sejak 2012. “Saya mewarisi jejak bapak saya yang sampai sekarang masih membuat canting,” ujarnya.

Kata Hamzah, Landungsari sudah terkenal sebagai sentra canting cap sejak 1980-an. Saat itu, jumlah perajin canting hanya sekitar 10 orang. Seiring waktu, jumlah perajin terus bertambah, hingga kini ada sekitar 200 warga yang pekerjaanya membuat canting cap. “Rata-rata, mereka membuat canting di rumah. Tapi, saya sendiri bikin di kios ini,” tuturnya.

Hamzah hanya membuat canting cap. Namun di kiosnya, ia juga menjual canting tulis atau biasa disebut canting nyamplung, serta wajan untuk tinta batik, dan kompor kecil untuk memanaskan lilin atau malam.
Dibantu tiga karyawannya, Hamzah bisa menghasilkan sekitar 20 canting cap per bulan. Harga canting dari Rp 100.000 hingga Rp 1 juta.

Ia mengaku, bisa mengatongi omzet Rp 15 juta tiap bulan. Sebab, selain menjual peralatan membatik, ia juga menawarkan jasa perbaikan canting cap. Jika sudah lama digunakan, biasanya ada bagian canting yang copot atau berkarat. “Dengan tarif Rp 40.000-Rp 100.000, canting cap bisa dibuat seperti baru,” ucap Hamzah.

Perajin canting lainnya, Slamet Azis bilang, produsen canting di sentra ini terus bertambah, karena permintaan tak pernah surut. Maklum, jumlah perajin batik di Pekalongan juga mencapai ribuan. “Sebelum tahun 1980-an, produsen batik di Pekalongan beli canting cap dari luar kota, seperti Solo atau Yogyakarta. Hingga kemudian, warga di sini bikin canting sendiri,” kisahnya.
Menurut Slamet, semua perajin canting di Landungsari hanya menghasilkan canting cap. Ini lantaran keuntungan dari menjual canting cap lebih besar ketimbang canting tulis.

Canting tulis hanya dijual seharga Rp 3.000-Rp 5.000, sedangkan canting cap bisa dibanderol hingga jutaan rupiah. “Omzet saya rata-rata Rp 10 juta dari bisnis canting cap,” ungkap Slamet. Selain bisnis warisan, ada juga pembuat canting karena pengaruh lingkungan.

Contohnya Nur Hadi. Ia bilang, ia tertarik menggeluti usaha pembuatan canting lantaran tetangganya rata-rata berprofesi sebagai pembuat canting. “Saya belajar dari mereka, dan mulai 2002 lalu, saya mulai memproduksi canting di halaman rumah,” kisahnya. Dalam sebulan, pria yang akrab disapa Hadi ini bisa mengerjakan sepuluh buah canting cap.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s